Panduan Mendidik Anak Era Milenial
Dharmawanitapersatuan – Smeknero. Didiklah anak-anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup bukan di zamanmu. Petikan kalimat dari Khalifah Ali Bin Abi Thalib di atas adalah sebuah pesan moral dan spiritual kepada orang tua tentang pentingnya sebuah pendidikan bagi anak sesuai dengan masanya.
Zaman sekarang ini, tantangan semakin kuat. Arus perkembangan teknologi informasi tidak bisa dibendung lagi. Sisi budaya, pergaulan dan perkembangan anak-anak saat ini rentan sekali terhadap hal-hal negatif yang tidak diinginkan.
Anak-anak mempunyai keinginan besar untuk melakukan sesuatu hal yang bagi mereka asyik dan menarik, terutama anak usia dini, karena mereka tidak memikirkan apa akibat yang akan ditimbulkan.
Sehingga tidak menutup kemungkinan, banyak orang tua yang mengalami kegaulauan. Ada orang tua yang terlalu protektif, mereka membatasi pergaulan anak. Bahkan mengkungkung anak dan mengisolasinya dari perkembangan zaman. Sementara itu, di satu sisi, ada orang tua yang membiarkan anaknya tumbuh berkembang sesuai zaman yang berlangsung tanpa melakukan kontrol.
Beberapa kekhawatiran itu adalah wajar adanya. Sehingga, yang menjadi pertanyaan sekarang ini adalah, bagaimana orang tua dalam mendidik anak sesuai zamannya itu seperti apa?
Dalam konteks ini, orang tua harus mempelajari dan mengamati perkembangan zaman, agar mampu beradaptasi secara optimal. Tepatnya mengenai pendidikan anak sesuai zaman, diartikan mengarahkan anak-anak supaya mampu bertahan (survive) terhadap zaman di mana dia hidup. Sehingga mampu menjadi insan yang mandiri dan kontributif bagi kemaslahatan umat.
Perlu orang tua ketahui, bahwa anak merupakan titipan dari Allah yang sangat berharga dan harus dijaga. Anak merupakan kado terindah dan anugerah bagi orang tua yang tiada tara. Dia akan menjadi penghibur dikala suasana gundah melanda.
Di sisi lain anak akan menjadi masalah bila kita tidak mampu mendidiknya secara benar. Oleh karena itu, di sinilah pentingnya peran orang tua dalam mendidik dan mengajarkan pendidikan sesuai dengan tuntunan Islam.
Graeme Codrington & Sue Grant-Marshall, Penguin (2004), dalam teori generasi (generation theory) menjelaskan, terdapat 5 generasi manusia berdasarkan tahun kelahirannya. Generasi baby boomer, lahir 1946-1964, generasi X, lahir tahun 1965-1980, generasi Y, lahir tahun 1981-1994 atau sering disebut millennial, generasi Z, lahir tahun 1995-2010 atau sering disebut iGeneration, Generasi Net, ataupun Generasi Internet, serta generasi alpha, lahir tahun 2011-2025.
Generasi-generasi tersebut menurut Codrington ternyata memilik karakteristik tersendiri sesuai dengan zamannya. Namun demikian, dalam kajian Islam perihal pendidikan anak dalam Islam telah termaktub dalam Al-Quran, dapat ditemui beberapa ayat, sebagaimana surat At-Tahrim: 6: Hai orang-orang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.
Oleh karena itu, sejak dini anak harus mulai dari ditanamkan pendidikan Islam mulai dari lingkungan terdekatnya, yaitu orang tua.
Beberapa tuntunan pendidikan anak dalam Islam ialah mengajarkan akidah dan ketauhidan. Akidah dan tauhid merupakan landasan dalam ajaran Islam. Apabila seseorang berakidah dan bertauhid, maka niscaya ia akan mendapatkan keselamatan dunia, maupun akhirat.
Begitu pun sebaliknya, tanpa akidah dan tauhid seseorang bisa terjurumus dalam keburukan. Karenanya, penting bagi orang tua untuk terlebih dahulu paham mengenai ilmu agama, paling tidak untuk menjelaskan perihal ajaran Islam.
Hal ini tentu saja untuk melancarkan upaya pendidikan anak berdasarkan ajaran agama Islam. Islam sendiri memerintahkan kita untuk banyak “membaca”. Landasan itu menjadi dasar hukum mengenai belajar firman Allah surat Az-Zumar: 9: Katakanlah (Ya Muhammad), tidaklah sama antara orang berilmu dengan orang yang tidak berilmu, sesungguhnya orang yang memiliki akan pikiran adalah orang yang dapat memberi pelajaran.
Ayat di atas menegaskan, bahwa orang yang berilmu tersebut tidak sama dengan orang yang tidak berilmu, karena hanya orang yang berilmulah yang dapat menerima pelajaran.
Riwayat Ibnu Abbas mengatakan: Rasulullah Saw bersabda: Siapa yang ingin meraih kehidupan dunia dengan baik, maka harus dengan ilmu. Begitu juga siapa yang ingin meraih kesuksesan di akhirat, maka juga harus dengan ilmu. Dan siapa saja yang ingin meraih kedua-duanya, maka harus dengan ilmu.
Hadits di atas menjelaskan, ilmu adalah segala-galanya dan wajib dituntut oleh kaum muslimin dan muslimah serta siapa saja yang ingin mencari kebahagiaan baik di dunia maupun akhirat.
Dua kebahagiaan tersebut baru bisa dicapai adalah dengan ilmu (pendidikan). Karena kebahagiaan merupakan tujuan setiap manusia, Seseorang yang menempuh jalan kebahagiaan berarti sedang menuju pada kesempurnaan.
Kebahagiaan sendiri menurut Ibn Bajjah manakala seseorang telah mencapai dalam hidupnya martabat ilmu atau hikmah atau keberanian atau kemuliaan. Ia juga sadar sebagai seseorang yang berilmu, bijaksana, berani atau mulia, lalu ia berbuat sesuatu dengan apa yang diketahuinya, tanpa ria dan tanpa mengharapkan keuntungan apapun. Maka itu ia merasa ketenteraman batin dan mengetahui hakikat hidup dan wujud itu.
Berdasarkan kutipan di atas, kebahagiaan apabila seseorang telah mencapai tujuan hidupnya, dan dapat melakukan aktivitas sehari-hari berdasarkan ilmu sehingga ia menjadi orang yang bijaksana, beramal mulia dan bermartabat.
Kebutuhan seseorang dalam Islam terhadap Pendidikan, bukanlah hanya sekedar mengembangkan aspek individual dan sosial yang bersifat mementingkan pertumbuhan dan perkembangan secara fisik saja. Akan tetapi, juga untuk mengarahkan naluri agama yang telah ada dalam setiap diri anak, karena pada dasarnya setiap jiwa manusia itu telah disirami dengan nilai-nilai agama Islam.
Naluri agama yang dimiliki oleh manusia untuk melangsungkan kehidupannya di dunia ini merupakan suatu pedoman yang harus di tanamkan kepada anak sejak dini. Sehingga, proses pendidikan adalah untuk mengembangkan potensi agama tersebut ke arah yang sebenarnya.
