Tak ada murid yang bodoh
Dharmawanitapersatuan – Smeknero. Semua orang memiliki kemampuan dan keunikannya masing-masing, termasuk pelajar. Keberagaman ini tercermin dari bagaimana keadaan murid selama di kelas. Ada yang belajar dengan hapalan, ada yang lebih fokus dengan catatan, ada pula yang konsen kalau materi melalui audio, dan beragam cara belajar lainnya. Lalu terdapat pula yang hebat di matematika, ada juga yang berbakat dalam seni budaya, dan beragam spesialisasi yang dimiliki masing-masing murid.
Setiap individu memiliki keunikan dan potensi yang berbeda-beda, termasuk di antara para pelajar. Keberagaman ini tercermin dalam berbagai cara pelajar menyerap, memproses, dan memahami materi pelajaran. Ada yang memahami dengan metode hapalan, ada yang lebih fokus pada pencatatan, dan ada yang lebih responsif terhadap materi melalui pendekatan audio atau metode lainnya. Keberagaman ini juga berlaku dalam aspek kemampuan dan minat pelajar, seperti kemampuan dalam matematika atau bakat seni budaya. Meskipun demikian, penting bagi guru untuk mengakui dan merangkul keberagaman ini dan tidak “memilih-milih” dalam memberikan bantuan dalam pembelajaran. Ini karena pendidikan adalah hak asasi setiap individu.
Tidak peduli seberapa lambat atau cepat seorang murid dalam memahami materi, guru tidak boleh mengeksklusi mereka atau memberi perlakuan diskriminatif. Memilih untuk tidak mengajar ulang kepada murid yang mungkin disebut sebagai “slow learner” adalah tindakan yang tidak hanya tidak etis tetapi juga tidak sesuai dengan prinsip-prinsip pendidikan yang adil. Semua pelajar harus diberi kesempatan yang sama untuk memahami dan menguasai materi pelajaran. Mencoba untuk memahami mengapa seorang murid mungkin perlu lebih banyak waktu untuk memahami materi tertentu daripada yang lain adalah langkah yang bijak. Ini tidak boleh dilihat sebagai kelemahan atau kebodohan, karena setiap individu memiliki keunikan dalam hal kemampuan belajar.
