Ketika Orang Tua Belajar Mengalah
Dharmawanitapersatuan – Smeknero. Kadang orang tua perlu mengalah—meski kalimat itu sering terdengar seperti paradoks yang tak disukai banyak kepala dewasa. Kita tumbuh dengan keyakinan bahwa orang tua adalah kompas yang selalu benar, sementara anak-anak cukup mengikuti arah panahnya. Tetapi kehidupan tak sesederhana buku panduan yang tak pernah benar-benar ditulis itu.
Di sebuah ruang tamu kecil, misalnya, seorang ayah berteriak agar anaknya berhenti menangis, padahal yang ditangisi hanya kertas gambar yang terlipat. Si ayah tak sadar bahwa dunia anaknya runtuh di titik itu; bagi sang anak, kertas itu adalah proyek maha penting, sesuatu yang barangkali lebih sungguh-sungguh daripada rapat kantor yang dikejar ayahnya setiap pagi. Namun siapa yang mau mengalah? Si ayah memilih menang, seperti generasi dewasa lain yang percaya bahwa kemenangan adalah tanda keberhasilan mendidik.
Di jalanan yang macet, di lorong-lorong sekolah, di grup percakapan keluarga, kita menemukan pola serupa: orang tua lebih sibuk mempertahankan martabat daripada membangun hubungan. Alih-alih mendengar, mereka menjustifikasi. Alih-alih merangkul, mereka menggurui. Anak yang diam dianggap tidak tahu apa-apa, padahal barangkali dalam diamnya ia menakar apakah dunia layak dipercaya.
Kita hidup di masyarakat yang terlalu sering memuja otoritas dan menganggap kelembutan sebagai kelemahan. Tidak heran bila praktik parenting berubah menjadi arena pertarungan kecil: siapa yang tunduk, siapa yang berkuasa. Namun kemenangan tanpa pemahaman hanya melahirkan jarak. Dan jarak itu, jika dibiarkan, menjadi semacam jurang yang sulit dijembatani ketika anak tumbuh dan mulai mengunci pintu kamar tidak hanya secara fisik, tetapi juga emosional.
Mengalah bukan berarti menyerah pada kehendak anak. Mengalah berarti menyediakan ruang bagi mereka untuk menjadi manusia. Untuk marah, sedih, dan bahagia tanpa harus melalui sensor perasaan orang dewasa yang sering kali terlalu rapuh untuk mengakui rapuhnya sendiri. Kadang orang tua perlu mengalah agar anak belajar bahwa hubungan bisa dibangun lewat dialog, bukan dominasi.
Barangkali, dalam sebuah sore yang sunyi, seorang ibu menurunkan nada suaranya dan berkata, “Baik, Ibu dengar dulu.” Dan di situ, dunia anaknya berubah: ia merasa dihargai, bukan diarahkan; ditemani, bukan dikendalikan. Di titik kecil itulah, parenting menemukan maknanya—bukan pada kemenangan orang tua, tetapi pada keberanian mereka untuk mengakui bahwa anak juga manusia yang patut didengarkan.
