Republik Rumah Tangga dan Menteri yang Tak Pernah Dilantik
Dharmawanitapersatuan – Smeknero. Setiap pagi, di sebuah republik kecil bernama Rumah Tangga, seorang menteri bekerja tanpa SK pengangkatan, tanpa gaji pokok, bahkan tanpa seremoni potong pita. Ia bernama Istri—meski jabatan resminya tidak pernah diumumkan, dan portofolionya terbentang dari logistik sandang-pangan hingga manajemen emosi penduduk.
Ia bangun sebelum matahari memulai shift-nya. Sambil menjerang air, ia merapikan kekacauan yang ditinggalkan hari sebelumnya, seperti seorang arkeolog yang sabar menafsirkan reruntuhan peradaban mikro. Kadang ia berharap reruntuhan itu bisa bicara, atau lebih baik lagi, diberi tanda terima yang dapat diajukan sebagai bukti kerja formal. Namun, tentu saja, tidak ada formulir untuk itu. Negara tidak pernah mengeluarkan Peraturan Menteri tentang “Upah Kerelaan Ibu Rumah Tangga”.
Orang sering berkata, “Ah, itu sudah tugas istri.” Kalimat yang terdengar enteng, seperti melempar kerikil ke sungai. Padahal, di balik kalimat itu, ada jam kerja tak terbatas, ada koordinasi lintas divisi, ada lembur emosional yang tidak dimasukkan ke laporan keuangan siapa pun. Dalam sunyi dapur yang masih basah oleh uap, ia menimbang apakah kata “ikhlas” memang harus selalu dipasangkan dengan “tanpa apresiasi”.
Kadang ia ingin marah. Tapi marah pun membutuhkan energi, dan energinya sedang dipakai untuk aktivitas yang lebih mendesak: menenangkan anak, menyiram tanaman, menyiapkan sarapan, mengingatkan suami tentang charger ponsel yang tertinggal. Ia bekerja seperti algoritma yang selalu aktif, tanpa henti, tanpa notifikasi “battery low”.
Tetangga sering memuji keteraturan rumahnya, tetapi jarang ada yang memuji perempuan yang menjaganya. Di ruang publik, pekerjaannya dianggap domestik; di ruang domestik, pekerjaannya dianggap sudah seharusnya. Sebuah jebakan ganda yang membuat jerih payahnya menguap seperti asap kopi.
Namun ia tetap berjalan, bukan karena tak lelah, melainkan karena ada yang tumbuh dari tangannya: kehangatan. Hal yang tak bisa dibeli negara, tak bisa diteken pemerintah, tak bisa diganti kontrak apa pun.
Dan barangkali, di sela-sela kesibukannya, ia diam-diam berharap suatu hari ada yang berkata dengan sungguh-sungguh: “Terima kasih, Bu Menteri. Republik ini berdiri karena Anda.”
